indate.net-BOGOR – Kongres Nasional Syarikat Islam (SI) ke-42 yang dijadwalkan berlangsung di Surabaya pada 17–20 November 2026 diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi umat.
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Syarikat Islam Kota Bogor, Subhan Murtadla, S.Ag., M.E., menilai kongres tersebut tidak sekadar menjadi forum permusyawaratan organisasi, tetapi juga ruang untuk mengevaluasi perjalanan perjuangan dan merumuskan strategi menghadapi tantangan zaman.
Menurut Subhan, Syarikat Islam perlu menerjemahkan warisan sejarahnya ke dalam program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama di bidang ekonomi, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat.
Ia menyoroti pentingnya penguatan dakwah ekonomi melalui kebangkitan saudagar Syarikat Islam. Dalam pandangannya, saudagar tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Saudagar yang berlandaskan tauhid harus menjunjung kejujuran, profesionalisme, keadilan, dan kepedulian sosial. Keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM, membangun kemitraan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” demikian pandangan Subhan dalam tulisannya menjelang kongres.
Ia juga mendorong pengembangan ekosistem ekonomi yang menghubungkan saudagar, koperasi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendidikan, serta jaringan usaha antardaerah.
Menurutnya, jaringan tersebut perlu dikembangkan agar semangat persaudaraan di lingkungan Syarikat Islam tidak hanya menjadi ikatan organisasi, tetapi juga menghasilkan kerja sama ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Konsolidasi dan Regenerasi Kepemimpinan
Selain penguatan ekonomi, Subhan menilai konsolidasi organisasi dan regenerasi kepemimpinan perlu menjadi perhatian dalam Kongres Nasional SI ke-42.
Penguatan struktur organisasi dari tingkat pusat hingga cabang, kata dia, perlu disertai program kerja yang terukur, kaderisasi berkelanjutan, serta pembagian peran yang jelas.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang lebih luas kepada generasi muda untuk mengambil peran dalam kepemimpinan, berinovasi, dan mengembangkan kewirausahaan dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.
Subhan berharap kongres menghasilkan keputusan strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program kerja konkret. Menurutnya, keberhasilan kongres tidak cukup diukur dari kelancaran persidangan atau banyaknya keputusan yang dihasilkan, tetapi juga dari pelaksanaan dan dampaknya bagi organisasi serta masyarakat.
Sejarah sebagai Landasan Perjuangan
Dalam pandangannya, sejarah Syarikat Islam menunjukkan bahwa kebangkitan ekonomi merupakan salah satu fondasi penting perjuangan organisasi.
Gerakan yang berakar dari Sarekat Dagang Islam, yang didirikan Haji Samanhudi di Surakarta pada 1905, berkembang menjadi kekuatan sosial yang memperjuangkan martabat, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat.
Warisan tersebut, menurut Subhan, perlu menjadi inspirasi untuk memperkuat peran Syarikat Islam dalam menjawab persoalan masa kini.
Ia menegaskan, masa depan organisasi perlu dibangun melalui perpaduan kekuatan ideologi, kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, dan kebermanfaatan sosial.
Nilai perjuangan “Semurni-murni Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, Sepintar-pintar Siasat” juga diharapkan tetap menjadi pedoman bagi kader Syarikat Islam dalam menghadapi perubahan zaman.
Bagi Subhan, Kongres Nasional SI ke-42 di Surabaya harus menjadi titik tolak bagi gerakan yang lebih konkret, dengan menjadikan sejarah sebagai inspirasi, organisasi sebagai sarana perjuangan, dan ekonomi sebagai jalan pemberdayaan umat.
Ia berharap Syarikat Islam semakin mampu beradaptasi, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan program yang berdampak bagi terwujudnya masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat.
Dari konsolidasi menuju aksi, dari kebangkitan saudagar menuju kemandirian ekonomi umat.(*)

