Desi Yanti Utami Dorong Pemilih Pemula di Kota Bogor Cerdas Memilih, Rekam Jejak Calon Jadi Perhatian


indate.net-BOGOR – Pendidikan demokrasi bagi generasi muda dinilai penting untuk membangun kesadaran politik sejak dini, terutama bagi mereka yang akan memasuki usia sebagai pemilih pemula. Pemahaman mengenai demokrasi diharapkan dapat mendorong generasi muda menjadi pemilih yang kritis, cermat, dan bertanggung jawab dalam menentukan pemimpin masa depan.

Anggota DPRD Kota Bogor dari Fraksi Partai Golkar, Desi Yanti Utami, yang juga merupakan Anggota Komisi II DPRD Kota Bogor, menekankan pentingnya memberikan pemahaman demokrasi kepada kalangan pelajar. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa hak pilih merupakan bagian penting dalam menentukan arah pembangunan dan masa depan bangsa, termasuk Kota Bogor.

Pendidikan demokrasi, kata Desi, tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan pemilihan umum (pemilu), tetapi juga menyangkut bagaimana nilai-nilai demokrasi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendidikan demokrasi terhadap anak-anak muda hari ini sangat penting. Mereka harus paham bagaimana menjadi pemilih pemula, karena mereka yang akan menentukan masa depan negara Indonesia, khususnya di Kota Bogor,” ujar Desi. Jumat (23/10/2026)

Ia menjelaskan, sekolah dapat menjadi salah satu lingkungan awal bagi pelajar untuk mengenal dan mempraktikkan demokrasi. Proses pembelajaran tersebut dapat dimulai melalui kegiatan sederhana, seperti pemilihan ketua kelas dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Melalui kegiatan tersebut, para pelajar dapat belajar mengenai proses pemilihan, menentukan pilihan, menghargai perbedaan pendapat, serta menerima hasil keputusan bersama.

Menurut Desi, pengalaman berdemokrasi di lingkungan sekolah menjadi bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda agar terbiasa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan secara bertanggung jawab.

“Demokrasi tidak hanya diterapkan di lingkungan masyarakat, tetapi juga di sekolah. Contohnya, melalui pemilihan OSIS dan pemilihan ketua kelas. Dengan begitu, mereka sudah belajar dan menerapkan demokrasi sejak dini,” tuturnya.

Pemilih Pemula Perlu Kritis Menyikapi Informasi di Media Sosial

Selain memahami prinsip-prinsip demokrasi, Desi mengingatkan bahwa pemilih pemula perlu memiliki kecermatan dalam mengenali calon pemimpin. Hal ini menjadi penting di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat masyarakat, termasuk generasi muda, semakin mudah mengakses berbagai informasi melalui media sosial.

Media sosial dapat dimanfaatkan untuk mengenal sosok calon pemimpin, memahami gagasan yang disampaikan, serta menelusuri informasi mengenai rekam jejak mereka. Namun, informasi yang beredar di ruang digital tetap perlu diperiksa kebenaran dan sumbernya.

Desi menilai, generasi muda perlu membiasakan diri untuk tidak hanya melihat popularitas atau penampilan seorang calon pemimpin di media sosial. Mereka juga perlu memperhatikan rekam jejak, pengalaman, serta konsistensi antara pernyataan dan tindakan yang dapat diverifikasi.

“Ada catatan khusus bagi para pemilih pemula. Mereka harus lebih cermat dan cerdas dalam memilih sosok pemimpin. Saat ini, media sosial sudah menjadi wadah bagi mereka untuk melihat dan mengenal sosok-sosok pemimpin,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jejak digital dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk mengenali calon pemimpin. Meski demikian, informasi tersebut perlu ditelusuri secara menyeluruh agar pemilih tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi, potongan informasi, maupun konten yang berpotensi menyesatkan.

Dengan membandingkan informasi dari berbagai sumber tepercaya, pemilih pemula diharapkan mampu membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Pendidikan Demokrasi untuk Membangun Pemilih Bertanggung Jawab

Lebih lanjut, Desi menegaskan pentingnya membangun kebiasaan berpikir kritis di kalangan generasi muda sebelum mereka menggunakan hak pilihnya. Menurutnya, keputusan dalam memilih pemimpin perlu didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan semata-mata karena mengikuti pilihan orang lain atau terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Jadi, mereka harus lebih pintar dan cerdas dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka nantinya,” tegasnya.

Pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat berjalan beriringan. Sekolah dapat memberikan pemahaman mengenai proses demokrasi, keluarga menjadi ruang awal untuk membangun kebiasaan berdiskusi, sedangkan masyarakat dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan sosial.

Di sisi lain, literasi digital juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pemilih pemula. Kemampuan memeriksa sumber informasi, memahami konteks pemberitaan, dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum terverifikasi merupakan keterampilan yang relevan dalam kehidupan demokrasi saat ini.

Dengan pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta dalam proses demokrasi, tetapi juga mampu menjalankan hak dan tanggung jawab kewarganegaraan secara sadar.

Dorongan terhadap pendidikan demokrasi sejak dini menjadi pengingat bahwa kualitas partisipasi politik tidak hanya ditentukan oleh tingginya jumlah pemilih, tetapi juga oleh pemahaman masyarakat terhadap pilihan yang diambil. Generasi muda yang memperoleh pendidikan demokrasi dan literasi informasi diharapkan dapat berpartisipasi secara lebih kritis, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menentukan masa depan Indonesia, termasuk Kota Bogor.(JM)