-->
  • Jelajahi

    Copyright © IndateNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Mama Ghufron Viral di Media Sosial, Klaim Kuasai “Bahasa Jin” dan “Bahasa Semut” Jadi Sorotan

    Indate News
    07/05/26, Mei 07, 2026 WIB Last Updated 2026-05-06T23:52:38Z


    indate.net-Sosok bernama Mama Ghufron tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di platform TikTok dan Instagram. Potongan video ceramahnya viral bukan karena materi dakwah semata, melainkan sejumlah klaim unik yang memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.


    Pria yang memiliki nama asli Ghufron Al Bantani itu diketahui lahir pada 25 Desember 1963 dan merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pesantren UNIQ Nusantara di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur.


    Nama Mama Ghufron mulai ramai diperbincangkan setelah berbagai cuplikan ceramahnya tersebar luas di media sosial. Dalam sejumlah video, ia menggunakan istilah asing seperti “syududu” yang kemudian menjadi tren dan bahan candaan warganet di TikTok maupun Instagram Reels.


    Istilah tersebut memunculkan rasa penasaran publik lantaran tidak ditemukan dalam kosakata resmi bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang umum dikenal. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait arti maupun maksud penggunaan kata tersebut.


    Selain istilah “syududu”, perhatian publik juga tertuju pada klaim Mama Ghufron yang mengaku mampu memahami dan menggunakan berbagai bahasa non-manusia. Dalam beberapa video yang beredar, ia menyebut makhluk selain manusia menggunakan “Bahasa Suryani”, yang menurutnya merupakan bahasa para wali dan nabi.


    Dalam salah satu potongan video, ia memperagakan apa yang disebutnya sebagai “bahasa semut” dengan susunan kalimat tertentu yang diklaim memiliki makna doa. Video tersebut kemudian ramai dibagikan ulang oleh sejumlah akun media sosial.


    Tak hanya itu, Mama Ghufron juga mengaku dapat berbicara menggunakan “bahasa jin”, “bahasa malaikat”, hingga memahami bahasa hewan seperti monyet dan cacing.


    Namun, berbagai klaim tersebut menuai kritik dari sejumlah kalangan. Beberapa warganet hingga pemerhati bahasa menilai istilah dan susunan kata yang diucapkan tidak memiliki kesesuaian dengan Bahasa Suryani yang dikenal dalam kajian sejarah maupun linguistik.


    Fenomena viralnya Mama Ghufron pun memunculkan beragam respons di masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai hiburan di media sosial, sementara lainnya mengingatkan pentingnya masyarakat untuk bijak menyikapi informasi dan klaim yang beredar di ruang digital.(*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini