indate.net-Bogor -Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, pedagang hewan kurban musiman mulai bermunculan di berbagai titik strategis di Kota Bogor. Kehadiran mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang diperkirakan mencapai 15 ribu ekor sapi dan kambing pada tahun 2026.
Salah satu pedagang, Munawar, membuka lapak di samping Jalan Raya Kedung Halang Wates, Kecamatan Tanah Sareal. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki arus lalu lintas yang ramai sehingga dinilai potensial menjaring pembeli.
Munawar mengaku telah hampir setiap tahun berjualan hewan kurban. Di lapaknya, ia menyediakan berbagai jenis kambing, domba, hingga sapi dengan harga yang bervariasi sesuai bobot dan kualitas hewan.
“Untuk kambing dengan bobot 20 sampai 25 kilogram kami jual antara Rp2,9 juta hingga Rp3,1 juta. Kalau bobot di atas 25 kilogram biasanya sekitar Rp4 juta,” ujar Munawar saat ditemui, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, kambing jenis Garut menjadi salah satu yang paling banyak diminati pembeli. Dengan bobot yang dapat mencapai 50 kilogram, kambing tersebut dijual sekitar Rp6 juta per ekor.
Sementara itu, harga sapi mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Munawar menyebut harga modal untuk sapi jenis Pegon, Peranakan Ongole, hingga Limosin kini jauh lebih tinggi.
“Biasanya saya jual sapi Rp22 juta, tetapi sekarang angka itu justru menjadi harga modal,” katanya.
Meski harga sapi naik, Munawar menilai minat masyarakat untuk membeli hewan kurban tetap tinggi. Ia memperkirakan lonjakan pembeli akan terjadi sekitar satu pekan sebelum Idul Adha.
Selain menawarkan hewan dengan berbagai pilihan harga, Munawar juga menaruh perhatian besar pada kesehatan ternaknya. Hewan-hewan di lapaknya diberi pakan hingga empat kali sehari, mulai pagi, siang, sore, hingga malam.
“Yang penting jangan sampai kekurangan pakan,” ujarnya.
Kebersihan kandang juga dijaga secara rutin dengan mempekerjakan petugas khusus untuk membersihkan area lapak setiap hari.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor, Anizar, mengatakan kebutuhan hewan kurban di Kota Bogor setiap tahun rata-rata mencapai 15 ribu ekor, baik sapi maupun kambing.
“Angka itu bisa saja meningkat, tetapi biasanya berada di kisaran 15 ribu ekor per tahun,” ujarnya.
Namun, peternak lokal hanya mampu menyediakan sekitar 5.000 ekor. Karena itu, Kota Bogor masih bergantung pada pasokan hewan kurban dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Menurut Anizar, pemerintah tidak melarang pedagang dari luar daerah berjualan di Kota Bogor selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan dan melengkapi dokumen perizinan.
DKPP juga telah melakukan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku serta pemberian obat cacing. Pemeriksaan menyeluruh terhadap hewan kurban di lapak-lapak penjualan akan dilakukan mulai 10 hari sebelum Idul Adha di enam kecamatan.
Dedie A. Rachim menegaskan Pemerintah Kota Bogor melarang pedagang hewan kurban berjualan di trotoar, badan jalan, maupun di atas saluran air.
“Dilarang berjualan di atas saluran air, trotoar, dan badan jalan,” tegas Dedie.
Ia juga menekankan bahwa setiap lokasi penjualan wajib memiliki izin dari pemerintah setempat dan telah melalui pemeriksaan kesehatan oleh dinas terkait.
Menurut Dedie, pengawasan akan dilakukan secara berkala. Jika ditemukan pelanggaran, pemerintah akan menertibkan dan memindahkan pedagang ke lokasi yang sesuai.
Di Kota Bogor, salah satu pusat penjualan hewan kurban berada di kawasan Jalan Pajajaran yang bekerja sama dengan pusat perakitan dan modernisasi peternakan serta kesehatan hewan milik Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Dedie juga mengimbau pedagang agar tidak mendatangkan hewan dari daerah yang masih terpapar PMK guna memastikan keamanan dan kesehatan hewan kurban yang dijual kepada masyarakat.(*)


