indate.net-BOGOR – Ketua PC Syarikat Islam Kota Bogor, Subhan Murtadla, menyoroti masih lemahnya kemandirian ekonomi umat di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang kerap dibanggakan. Ia menilai, hingga kini sebagian besar umat masih belum menjadi aktor utama dalam penguasaan sumber daya.
“Jumlah umat besar, tetapi belum kuat dalam penguasaan ekonomi. Ini menjadi paradoks yang harus segera diatasi,” kata Subhan dalam keterangannya.
Menurut dia, ketimpangan ekonomi, lemahnya ketahanan pangan, serta belum terbangunnya kemandirian menjadi persoalan mendasar yang harus mendapat perhatian serius. Ia mempertanyakan kondisi tersebut yang dinilai berlarut-larut tanpa solusi konkret.
Subhan mengingatkan, sejarah berdirinya Syarikat Islam oleh HOS Tjokroaminoto merupakan bagian dari gerakan pembebasan, tidak hanya secara politik, tetapi juga ekonomi dan sosial. Namun, ia menilai semangat tersebut saat ini mulai memudar.
“Semangat perjuangan itu jangan hanya menjadi retorika. Harus diwujudkan dalam kerja nyata yang berdampak,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang dihadapi umat adalah lemahnya konsolidasi ekonomi. Meski pelaku usaha seperti UMKM, koperasi, dan saudagar cukup banyak, namun belum terorganisasi dalam kekuatan kolektif yang mampu bersaing secara strategis.
Karena itu, Syarikat Islam didorong untuk mengambil peran lebih aktif, tidak hanya melalui dakwah di mimbar, tetapi juga di sektor ekonomi riil. Subhan menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi, mulai dari produksi hingga distribusi.
“Dakwah ekonomi harus menjadi arus utama. Kehadiran organisasi harus dirasakan langsung dalam kehidupan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti isu ketahanan pangan sebagai tantangan konkret. Menurutnya, ketergantungan pada impor menjadi ironi bagi negara yang memiliki sumber daya melimpah.
“Syarikat Islam harus berada di garis depan dalam membangun kedaulatan pangan, termasuk mendorong lahirnya petani dan pelaku usaha pangan yang mandiri,” ucapnya.
Di bidang sumber daya manusia, Subhan menilai bonus demografi dapat menjadi peluang sekaligus ancaman. Ia menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan agar mampu melahirkan generasi pencipta lapangan kerja.
Selain itu, ia juga menyinggung pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang perlu ditingkatkan agar tidak hanya bersifat bantuan sesaat, tetapi mampu memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
“Pengelolaan harus lebih produktif agar umat bisa bangkit, bukan sekadar bertahan,” jelasnya.
Subhan menambahkan, transformasi organisasi juga menjadi hal yang mendesak, termasuk pemanfaatan teknologi digital, penguatan jaringan ekonomi, serta kolaborasi lintas sektor.
Ia menegaskan, Syarikat Islam harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan umat dan masyarakat kecil, serta berperan aktif dalam mendorong kebijakan yang berkeadilan.
“Pilihan ada pada kita, menjadi penonton atau pelaku. Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian untuk bertindak nyata,” pungkasnya.(*)


