-->
  • Jelajahi

    Copyright © IndateNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Mosi Tidak Percaya di KONI Kabupaten Bogor Dinilai Ganggu Pembinaan Atlet, Pegawai, hingga Berdampak ke Keluarga

    Indate News
    04/04/26, April 04, 2026 WIB Last Updated 2026-04-04T12:44:26Z


    indate.net-Kabupaten Bogor-Polemik mosi tidak percaya yang mencuat di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bogor menjadi sorotan. Persoalan tersebut dinilai tidak sekadar konflik internal organisasi, melainkan berpotensi memengaruhi keberlangsungan pembinaan atlet di daerah.


    Ketua Badan Pengawas Independen Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran (BPI KPNPA) RI Kabupaten Bogor, Rizwan Riswanto, mengingatkan bahwa stabilitas organisasi merupakan kunci utama dalam menjaga program pembinaan olahraga tetap berjalan konsisten.


    Menurutnya, kondisi organisasi yang tidak kondusif dapat berdampak langsung terhadap atlet, mulai dari terganggunya program latihan hingga terhambatnya agenda kompetisi. Bahkan, bukan tidak mungkin program pembinaan terhenti apabila konflik terus berlarut.


    “Ketika organisasi tidak stabil, dampak pertama akan dirasakan oleh atlet. Program pembinaan bisa terganggu bahkan berhenti,” ujar Rizwan.


    Ia menilai, munculnya mosi tidak percaya terhadap pimpinan KONI Kabupaten Bogor berisiko menggeser fokus organisasi dari upaya peningkatan prestasi menjadi konflik internal yang tidak produktif. Padahal, KONI sebagai lembaga yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat.


    Rizwan menegaskan, setiap dinamika yang terjadi di dalam organisasi seharusnya tetap mengedepankan kepentingan publik, khususnya dalam mencetak prestasi olahraga daerah, bukan justru tersandera oleh kepentingan kelompok tertentu.


    “Jangan sampai energi organisasi habis untuk konflik. Masyarakat menunggu prestasi, bukan polemik,” tegasnya.


    Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap lembaga olahraga. Selain itu, situasi tersebut juga dapat memunculkan persepsi negatif terkait profesionalisme pengelolaan organisasi.


    Meski demikian, Rizwan menilai kritik terhadap kepemimpinan tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi. Namun, ia menekankan agar proses tersebut dilakukan melalui mekanisme yang sah dan konstitusional agar tidak memicu instabilitas yang lebih luas.


    “Evaluasi penting, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merusak sistem yang sudah berjalan,” katanya.


    Rizwan juga mengajak seluruh elemen di KONI Kabupaten Bogor untuk menahan diri serta kembali fokus pada tujuan utama organisasi, yakni membangun sistem olahraga yang berkelanjutan dan melahirkan atlet berprestasi.


    Di sisi lain, KONI Jawa Barat dijadwalkan memanggil Ketua Umum KONI Kabupaten Bogor, Dedi Ade Bachtiar, dalam rapat yang akan digelar pada Senin (6/4/2026). Pemanggilan tersebut bertujuan untuk melakukan klarifikasi terkait mosi tidak percaya yang berkembang di internal organisasi.


    Dedi diketahui menjabat sebagai Ketua Umum KONI Kabupaten Bogor berdasarkan Surat Keputusan Penggantian Antar Waktu (PAW) Nomor 82 Tahun 2025 untuk masa bakti 2023–2027.


    Rizwan berharap polemik yang terjadi dapat segera diselesaikan secara bijak dan tidak berlarut-larut, sehingga tidak mengorbankan masa depan atlet serta capaian prestasi olahraga di Kabupaten Bogor.(*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini