indate.net-BOGOR – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Bogor, terdapat sebuah kawasan unik dan bersejarah yang terletak di antara aliran Sungai Ciliwung. Namanya Pulo Geulis, sebuah kampung yang dikenal karena keunikannya sebagai daratan di tengah sungai serta kehidupan masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman.
Secara geografis, Pulo Geulis memang
menyerupai pulau kecil. Aliran Sungai Ciliwung membelah wilayah ini dan kembali
menyatu, menjadikannya terlihat seperti sebuah pulau di jantung Kota Bogor.
Nama "Geulis" sendiri dalam bahasa Sunda berarti “cantik”, merujuk
pada kecantikan perilaku sosial dan budaya warga yang hidup rukun meski berasal
dari berbagai latar belakang.
Kawasan ini sudah dikenal sejak masa
Kerajaan Pajajaran. Sekitar tahun 1482, tempat ini menjadi lokasi
peristirahatan keluarga kerajaan yang kala itu dikenal dengan nama Parakan
Baranangsiang. Namun setelah Pajajaran runtuh akibat serangan Kesultanan
Banten pada 1579, kawasan ini sempat terbengkalai hingga akhir abad ke-17.
Catatan sejarah menyebutkan, pada
tahun 1703 tim ekspedisi dari Batavia yang dipimpin Abraham van Riebeek
menemukan kembali kawasan ini saat menyusuri Sungai Ciliwung. Ia mencatat mulai
munculnya permukiman masyarakat multikultur yang terdiri dari etnis Sunda dan
Tionghoa.
Dalam perkembangannya, Pulo Geulis
menjadi kawasan padat penduduk. Pendatang dari berbagai wilayah datang
menggantikan warga Tionghoa yang bermigrasi ke kawasan Suryakencana, yang kini
dikenal sebagai Pecinan Kota Bogor.
Kawasan ini sangat jernih dan bisa
digunakan untuk minum. Bahkan, ikan masih banyak dan lingkungan sangat asri
dengan halaman luas dan pepohonan di tiap rumah. Namun kini, pemukiman padat
membuat kondisi tersebut berubah drastis.
Salah satu ikon utama Pulo Geulis
adalah Vihara Maha Brahma (Pan Kho Bio), kelenteng tertua di Kota Bogor
yang dibangun pada abad ke-18. Tempat ibadah ini tidak hanya digunakan umat
Tao, Konghucu, dan Buddha, namun juga menjadi lokasi berbagai kegiatan umat
Muslim, seperti pengajian dan perayaan hari besar keagamaan.
Sejak empat tahun terakhir, warga
bersama komunitas budaya dan pihak swasta menggagas program mural di
tembok-tembok rumah di Pulo Geulis. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan
sejarah, nilai budaya, dan identitas kampung yang terus dijaga hingga kini.
Kini, Pulo Geulis dihuni oleh
sekitar 2.500 jiwa dari 700 kepala keluarga. Meski menghadapi tantangan
sebagai permukiman padat, kawasan ini tetap menjadi contoh nyata bagaimana
keberagaman bisa menjadi kekuatan.(*)