indate.net-BOGOR – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Cimanggu Gang Tijan, RT 03/RW 15, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Minggu malam (16/8/2026). Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga kembali menggelar tradisi tahunan ziarah ke makam Pahlawan Tijan.
Tradisi tersebut menjadi agenda yang terus dipertahankan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya mengenang jasa seorang pemuda yang disebut gugur dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Ziarah berlangsung dalam suasana penuh penghormatan. Warga bersama unsur pemerintahan setempat, para ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga perwakilan Pahlawan Tijan, serta kalangan pemuda dan pelajar berkumpul untuk mendoakan sekaligus mengenang perjuangan sang pahlawan.
Bagi masyarakat sekitar, kegiatan tersebut bukan sekadar ritual tahunan menjelang perayaan kemerdekaan. Ziarah menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah perjuangan yang pernah terjadi di lingkungan mereka sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Tokoh agama sekaligus perwakilan keluarga Pahlawan Tijan, Haerul Saleh, mengungkapkan rasa syukur karena tradisi tersebut masih dapat dilaksanakan dan terus mendapat dukungan masyarakat.
Menurut Haerul, kisah perjuangan Pahlawan Tijan merupakan bagian dari sejarah lokal yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia menyebut Tijan gugur ketika masih berusia 18 tahun dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda.
“Almarhum gugur dalam usia sangat muda, hanya 18 tahun, dengan 18 tembakan dari penjajah Belanda. Keberaniannya menjadi kebanggaan kita bersama. Jika kita tidak mampu melanjutkan perjuangannya, setidaknya jangan mengotori kampung yang beliau perjuangkan ini,” ujar Haerul.
Pesan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap makam dan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga mengandung ajakan kepada masyarakat untuk menjaga nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan melalui pertempuran seperti yang dilakukan para pejuang pada masa lalu. Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, semangat tersebut dapat diterapkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persatuan, serta membangun kehidupan bermasyarakat yang baik.
Tradisi ziarah Pahlawan Tijan juga menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat. Kehadiran tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur wilayah, keluarga, hingga anak-anak muda menunjukkan bahwa penghormatan terhadap sejarah dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Terlebih, kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan momentum menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan kembali menengok sejarah dan mengingat pengorbanan generasi terdahulu.
Bagi generasi muda di Cimanggu, kisah Pahlawan Tijan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini memiliki sejarah panjang dan tidak terlepas dari pengorbanan para pejuang.
Karena itu, keberlangsungan tradisi ziarah tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah di tingkat lokal. Nilai-nilai keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air dapat terus dikenalkan kepada anak-anak dan pelajar melalui kisah perjuangan yang dekat dengan lingkungan mereka.
Selain mengenang jasa Pahlawan Tijan, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan warga. Doa dan penghormatan yang dilakukan bersama-sama memperlihatkan bahwa sejarah perjuangan dapat menjadi titik temu masyarakat dalam menjaga persatuan.
Di tengah perayaan kemerdekaan yang kerap diwarnai berbagai kegiatan hiburan dan perlombaan, tradisi ziarah tersebut menghadirkan sisi lain dari peringatan kemerdekaan, yakni refleksi dan penghormatan terhadap mereka yang telah berkorban.
Warga Cimanggu pun kembali menghidupkan ingatan terhadap Pahlawan Tijan. Bukan semata untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk mengingatkan generasi hari ini bahwa menjaga kemerdekaan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: merawat lingkungan, menjaga persatuan, menghormati sesama, dan tidak melupakan sejarah perjuangan di tanah kelahiran sendiri.
Dengan terus dipertahankannya tradisi tersebut, makam dan kisah Pahlawan Tijan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah lokal, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda mengenai arti pengorbanan dan tanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan.(JM)


