Iklan

Sejarah Idul Adha dan Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim

Indate News
10/07/22, Juli 10, 2022 WIB Last Updated 2022-07-10T03:53:40Z


indate.net-Idul Adha dirayakan pada 10 Dzulhijjah. Hari tersebut diiringi dengan melaksanakan penyembelihan hewan kurban yang dilakukan usai salat Id. Lalu bagaimana sejarah Idul Adha hingga dijadikan momen berkurban? Dirangkum Suara.com, adanya penyembelihan hewan kurban tersebut diterangkan dalam sebuah riwayat Imam Bukhari yang menyebutkan:

“Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menyembelih hewan kurban sebelum salat (Idul Adha) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih kurban sesudah salat (Idul Adha) dan dua khutbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.”

Sejarah Idul Adha berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Sejarah Idul Adha bermula dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang menjalankan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS.

Hal tersebut bersandar pada sebuah kisah yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu dalam surat As Saffat ayat 102, yang menyebutkan:

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Ditafsirkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya, ia menjelaskan bahwa putra yang dimaksud adalah Nabi Ismail AS, putra yang lebih tua daripada Nabi Ishaq AS. Hal tersebut merupakan kesepakatan kaum muslim dan kaum Ahli Kitab.

Kisahnya bermula pada suatu malam, di mana Nabi Ibrahim AS bermimpi menyembelih putranya, Ismail, saat Ismail telah sampai pada usia sanggup bekerja dengan Ibrahim AS.

Ubaid Ibnu Umair menyebutkan bahwa mimpi para nabi merupakan sebuah wahyu. Hadist yang menyebutkan hal demikian ada dalam kitab-kitab Sittah.

Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas RA, Mujahid, Ikrimah, S’id Ibnu Jubair, Ata Al-Khurasani, dan Zaid ibnu Aslam dan lainnya, maksud dari firman-Nya ‘Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya’ adalah tumbuh dewasa dan dapat bepergian dan bekerja seperti yang dilakukan ayahnya.

Saat Nabi Ibrahim AS membaringkan puteranya yang siap untuk disembelih dan keduanya tunduk serta berserah diri kepada kehendak dan ketentuan Allah SWT, maka Nabi Ismail AS yang ada dihadapannya tersebut digantikan oleh Allah dengan seekor sembelihan yang besar.

Dalam sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Ismail As digantikan dengan kabing gibas.

Hal tersebut disebutkan dalam Al-Quran, yaitu surat As-Saffat ayat 103-109.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,” (QS As Saffat: 103-109).

Disebutkan oleh Ibnu Abbas, sembelihan yang diceritakan dalam ayat tersebut merupakan kurban pertama dalam Islam.

Menurut Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu Juz 4, ibadah kurban disyariatkan pada tahun ketiga Hijrah, bersamaan dengan zakat dan salah hari raya.

Perintah kurban sendiri tertulis dalam Al-Quran, As-Sunnah, dan ijma para ulama.

Landasan kurban dari Al-Quran adalah firman Allah SWT, surat Al-Kautsar ayat 2.

“Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS Al Kautsar: 2).

Sementara itu, landasan dari As-Sunnah salah satunya disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada satu amalpun yang dilakukan anak cucu Adam pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan menumpahkan darah (hewan). Sesungguhnya ia (hewan-hewan yang dikurbankan itu) pada hari kiamat kelak akan datang dengan diiringi tanduk, kuku, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah yang ditumpahkan (dari hewan itu) telah diletakkan Allah SWT di tempat khusus sebelum ia jatuh ke permukaan tanah. Oleh karena itu, doronglah diri kalian untuk suka berkurban.” (HR al Hakim, Ibnu Majah, dan at Tirmidzi yang mengatakan kualitas hadits ini hasan gharib).

Adapun hukum kurban di hari Idul Adha menurut ketetapan jumhur ulama adalah sunnah bagi setiap orang yang mampu.(*)

Komentar

Tampilkan

Terkini

Kabupaten Bogor

+