indate.net-Bogor-Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional mulai menunjukkan tren kenaikan. Kondisi tersebut terlihat di Pasar Pedati, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, di mana harga cabai dan bawang mengalami lonjakan cukup signifikan.
Salah satu komoditas yang mencuri perhatian adalah cabai rawit jenis jablay. Cabai dengan tingkat kepedasan tinggi itu kini dipasarkan dengan harga mencapai Rp70 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram.
Pedagang setempat, Enjang, menjelaskan bahwa kenaikan harga bukan semata dipicu meningkatnya permintaan menjelang Ramadan, melainkan akibat menurunnya pasokan dari tingkat petani. Kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi hasil panen, terutama komoditas cabai.
“Pasokan dari petani sedang sedikit, sementara cuaca hujan membuat hasil panen cabai berkurang. Itu yang paling berpengaruh terhadap harga,” ujar Enjang saat ditemui di Pasar Pedati, Selasa (3/2/2026).
Ia menuturkan, untuk cabai jablay saja, harga beli dari pemasok sudah mencapai Rp60 ribu per kilogram, sehingga pedagang menjualnya di angka Rp70 ribu. Sementara cabai rawit hijau dijual sekitar Rp50 ribu per kilogram, dan cabai daerah berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram.
Tak hanya cabai, kenaikan harga juga terjadi pada bawang merah. Komoditas tersebut kini dijual seharga Rp40 ribu per kilogram, atau naik dua kali lipat dibandingkan harga normal yang biasanya sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Menurut Enjang, jika stok dari petani mencukupi, harga kebutuhan pokok cenderung tetap stabil meski memasuki bulan puasa. Namun, curah hujan tinggi belakangan ini membuat hasil panen bawang dan cabai tidak optimal.
Lonjakan harga tersebut turut berdampak pada pola belanja masyarakat. Sejumlah pembeli mulai mengurangi jumlah pembelian untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi.
“Sekarang banyak pelanggan yang mengeluh. Kalau biasanya beli satu kilogram, sekarang hanya setengah kilogram,” katanya.
Untuk mengantisipasi risiko kerugian akibat barang rusak atau busuk, para pedagang juga mulai menyesuaikan strategi penyetokan. Jika sebelumnya mampu menyimpan hingga satu kuintal bumbu, kini pedagang memilih membawa stok lebih sedikit.
“Kami sekarang lebih pilih stok harian agar barang selalu habis dan kualitas tetap terjaga,” pungkas Enjang.(*)


