-->
  • Jelajahi

    Copyright © IndateNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Uji Coba Asesmen Non-Akademik Diperkuat, Dorong Kualitas Interaksi Pembelajaran di Kurikulum Merdeka

    Indate News
    29/01/26, Januari 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T22:48:19Z


    indate.net-JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat kualitas pembelajaran di satuan pendidikan melalui uji coba instrumen asesmen non-akademik. Langkah ini menjadi bagian penting dalam pengembangan Kurikulum Merdeka guna memastikan proses belajar mengajar berjalan secara holistik, tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada aspek afektif, perilaku, dan lingkungan belajar siswa.


    Instrumen asesmen non-akademik dirancang untuk mengukur kualitas interaksi pembelajaran, khususnya hubungan antara guru dan siswa, manajemen kelas, serta iklim sekolah secara keseluruhan. Berbeda dengan asesmen berbasis tes, instrumen ini menggunakan pendekatan non-tes seperti observasi langsung, angket, studi kasus, hingga dokumentasi portofolio.


    Salah satu upaya yang saat ini gencar dilakukan adalah Survei Lingkungan Belajar dalam Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Melalui Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada periode 2024–2025 melakukan pemetaan kualitas interaksi guru dan siswa, praktik pengelolaan kelas, serta kondisi iklim belajar di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Survei ini menjadi instrumen non-akademik berskala nasional yang berfungsi sebagai cermin kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan.


    Selain itu, berbagai penelitian pengembangan instrumen juga dilakukan di tingkat sekolah dan perguruan tinggi. Salah satunya adalah uji coba skala interaksi guru-siswa, khususnya di jenjang Sekolah Dasar dan kelas inklusif. Instrumen ini diuji dari sisi validitas dan reliabilitas untuk memastikan alat ukur benar-benar mampu menggambarkan kualitas interaksi pembelajaran secara akurat, konsisten, dan mudah digunakan oleh pendidik.


    Pengembangan asesmen non-akademik juga diarahkan untuk mendukung penguatan karakter siswa dan implementasi Profil Pelajar Pancasila. Instrumen non-kognitif ini menitikberatkan pada pengamatan perilaku, interaksi sosial, serta sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Teknik observasi menjadi metode utama untuk memperoleh gambaran nyata tentang perkembangan karakter peserta didik di kelas.


    Pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), asesmen non-akademik diterapkan secara lebih mendalam melalui catatan anekdot, ceklis perkembangan, serta portofolio hasil karya anak. Melalui instrumen tersebut, pendidik dapat memantau kualitas interaksi anak dengan lingkungan belajar sekaligus menilai capaian perkembangan secara menyeluruh dan berkesinambungan.


    Seiring perkembangan teknologi, sejumlah studi juga mulai menguji coba pemanfaatan platform digital dalam asesmen non-akademik. Aplikasi pembelajaran interaktif, seperti Educaplay, digunakan untuk mengevaluasi aspek afektif siswa, termasuk sikap terhadap keberagaman dan nilai-nilai sosial yang ditanamkan dalam pembelajaran.


    Uji coba instrumen asesmen non-akademik ini dinilai penting sebagai dasar pengambilan kebijakan dan perbaikan praktik pembelajaran. Data yang diperoleh membantu guru dan sekolah mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, sehingga program pembelajaran dapat dirancang lebih adaptif sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.


    Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor, Yosep Berliana, menegaskan bahwa asesmen non-akademik menjadi instrumen strategis untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka di tingkat satuan pendidikan.


    Asesmen non-akademik membantu sekolah melihat proses pembelajaran secara lebih utuh, tidak semata-mata dari hasil nilai. Interaksi guru dan siswa, iklim kelas, serta pembentukan karakter justru menjadi fondasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Yosep Berliana, Rabu (29/01/2026).


    Ia menambahkan, Dinas Pendidikan Kota Bogor terus mendorong sekolah agar memanfaatkan hasil asesmen non-akademik sebagai bahan refleksi dan perbaikan pembelajaran. “Data yang dihasilkan harus ditindaklanjuti dalam praktik di kelas, sehingga pembelajaran benar-benar berpihak pada kebutuhan dan perkembangan peserta didik,” katanya.


    Dengan penguatan asesmen non-akademik, Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih manusiawi, bermakna, dan berorientasi pada perkembangan utuh peserta didik.(JM)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini