-->
  • Jelajahi

    Copyright © IndateNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Waspada Luka Diabetes: Dokter RSUD Kota Bogor Jelaskan Cara Efektif Tangani

    Indate News
    29/01/26, Januari 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-29T08:03:35Z


    indate.net-BOGOR
    – Ulkus kaki diabetik atau diabetic foot ulcer (DFU) masih menjadi salah satu komplikasi paling berbahaya pada penderita diabetes melitus. Luka pada kaki yang kerap dianggap sepele ini dapat berkembang menjadi infeksi berat dan berujung pada amputasi apabila tidak ditangani secara tepat dan menyeluruh.


    Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Konsultan RSUD Kota Bogor, dr. Budhi Arifin Noor, Sp.B, Subsp.BVE(K), menjelaskan bahwa DFU umumnya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor utama. Di antaranya gangguan aliran darah ke kaki, kerusakan saraf akibat diabetes, serta infeksi yang terjadi pada luka terbuka.


    “Ketiga faktor ini saling berkaitan dan memperburuk kondisi luka. Jika penanganannya tidak komprehensif, risiko komplikasi bisa meningkat dengan cepat,” ujar dr. Budhi.


    Ia menerangkan, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf tepi sehingga penderita diabetes kehilangan sensasi pada kaki. Akibatnya, luka kecil seperti lecet atau tekanan berlebih sering tidak dirasakan dan dibiarkan hingga berkembang menjadi luka yang lebih dalam.


    Selain itu, diabetes juga meningkatkan risiko penyakit arteri perifer yang menyebabkan aliran darah ke kaki berkurang. Kondisi tersebut membuat proses penyembuhan luka berjalan lambat dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.


    “Kurangnya suplai darah berarti oksigen dan nutrisi ke jaringan juga menurun. Ini yang membuat luka sulit sembuh,” jelasnya.


    Faktor lain yang turut memperbesar risiko DFU meliputi bentuk kaki yang tidak normal, penggunaan alas kaki yang tidak sesuai, kebersihan kaki yang kurang terjaga, kebiasaan merokok, serta lamanya seseorang menderita diabetes.


    Kenali Gejala dan Tingkat Keparahan

    Secara klinis, ulkus kaki diabetik ditandai dengan luka terbuka yang biasanya dikelilingi kapalan. Pada kondisi yang lebih berat, luka dapat mencapai jaringan dalam hingga tulang, disertai tanda infeksi seperti kemerahan, pembengkakan, bau tidak sedap, dan keluarnya cairan bernanah.


    Untuk menentukan tingkat keparahan, tenaga medis menggunakan sistem klasifikasi tertentu, salah satunya WIFi (Wound, Ischemia, and foot Infection). Klasifikasi ini membantu dokter menentukan langkah penanganan yang paling sesuai bagi pasien.


    Pemeriksaan Menyeluruh Sangat Diperlukan

    Dr. Budhi menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh pada pasien dengan luka kaki. Pemeriksaan meliputi penilaian aliran darah, fungsi saraf, hingga pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi infeksi, termasuk kemungkinan infeksi tulang.


    “Kontrol gula darah juga menjadi bagian penting dari evaluasi, karena kadar gula yang tidak terkontrol akan menghambat proses penyembuhan,” katanya.


    Penanganan Harus Terpadu

    Penanganan ulkus kaki diabetik tidak dapat dilakukan secara parsial. Perawatan luka intensif, pengurangan tekanan pada area luka, pengendalian infeksi, perbaikan aliran darah, serta pengaturan gula darah harus dilakukan secara bersamaan.


    Pada kasus tertentu dengan gangguan aliran darah berat, tindakan revaskularisasi seperti angioplasti atau pembedahan bypass dapat menjadi pilihan untuk memulihkan sirkulasi ke kaki.


    Butuh Peran Tim Multidisiplin

    Menurut dr. Budhi, penanganan DFU idealnya melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter bedah vaskular, dokter penyakit dalam, perawat luka, hingga tenaga rehabilitasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga memegang peranan penting agar perawatan dapat berlanjut dengan baik di rumah.


    Pencegahan Jadi Kunci Utama

    Ia menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif. Penderita diabetes dianjurkan memeriksa kondisi kaki setiap hari, menjaga kebersihan, menggunakan alas kaki yang sesuai, serta rutin melakukan kontrol kesehatan.


    “Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, banyak kasus ulkus kaki diabetik yang dapat disembuhkan tanpa amputasi. Kesadaran pasien untuk menjaga kesehatan kaki dan mengontrol diabetes menjadi faktor penentu,” pungkasnya.(*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini